Berita KotamobaguBerita Sulut

Kotamobagu Penyumbang Inflasi Tertinggi di Sulut Per Juli 2025

×

Kotamobagu Penyumbang Inflasi Tertinggi di Sulut Per Juli 2025

Sebarkan artikel ini
Inflasi Kotambagu Tertinggi di Sulut Juli 2025
Inflasi Kotambagu Tertinggi di Sulut Juli 2025

Sulutplus.news – Kota Kotamobagu mencatatkan inflasi tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Juli 2025, mencapai 3,20 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,47.

Angka ini jauh melampaui inflasi provinsi yang berada di level 2,04 persen (year-on-year), menandai tekanan harga yang signifikan di wilayah tersebut.

Inflasi Kota Kotamobagu menjadi perhatian utama karena lonjakan harga kebutuhan pokok dan biaya pendidikan.

Kenaikan harga tomat, beras, serta pengeluaran pendidikan menjadi pemicu utama inflasi bulanan (month-to-month) di Sulut yang tercatat sebesar 0,21 persen.

Meski lebih rendah dibanding bulan sebelumnya, tekanan harga tetap terasa di beberapa kota, terutama Kotamobagu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut, Aidil Adha, menjelaskan bahwa inflasi tahunan dipengaruhi oleh peningkatan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

Baca Juga:  Meiddy Makalalag Apresiasi Pencanangan Penanaman 10 Ribu Pohon Capai Pemkot Kotamobagu

Di antaranya adalah makanan dan minuman, perumahan dan energi, serta layanan kesehatan dan pendidikan.

“Kenaikan harga beras, cabai rawit, dan emas perhiasan menjadi faktor dominan dalam inflasi tahun ini,” ujar Aidil, sebagaimana dikutip Sabtu, 2 Agustus 2025.

Berbeda dengan Kotamobagu, Kota Manado mencatat inflasi terendah di Sulawesi Utara, yakni sebesar 1,60 persen dengan IHK 107,46.

Penurunan indeks terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki, perlengkapan rumah tangga, transportasi, serta sektor rekreasi dan komunikasi.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pola konsumsi dan tekanan harga antar wilayah di provinsi yang sama.

Faktor Pendorong Inflasi di Kotamobagu

Inflasi Kota Kotamobagu dipicu oleh beberapa faktor utama:

Harga pangan: Lonjakan harga tomat dan beras memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Baca Juga:  PDI Perjuangan Sepakat Usung Meiddy Makalalag di Pilkada 2024

Biaya pendidikan: Awal tahun ajaran baru mendorong kenaikan biaya sekolah dan perlengkapan pendidikan.

Kesehatan dan perawatan pribadi: Kenaikan tarif layanan kesehatan dan produk perawatan turut menyumbang inflasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi di Kotamobagu tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika sosial dan ekonomi lokal.

Dampak Inflasi Terhadap Masyarakat Kotamobagu

Dengan inflasi mencapai 3,20 persen, daya beli masyarakat Kota Kotamobagu berpotensi menurun.

Kenaikan harga kebutuhan pokok dan layanan dasar membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar.

Masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi kelompok yang paling terdampak, terutama dalam hal akses terhadap pangan dan pendidikan.

Pemerintah daerah diharapkan dapat merespons kondisi ini dengan kebijakan yang tepat, seperti pengendalian harga, subsidi pangan, dan penguatan program bantuan sosial.

Baca Juga:  Tahlis Gallang Terima Penghargaan Terbaik Ketiga Sulut

Transparansi data dan edukasi publik juga menjadi kunci agar masyarakat memahami dinamika inflasi dan dapat beradaptasi secara bijak.

Inflasi Kota Kotamobagu: Tantangan dan Peluang

Meski inflasi tinggi menjadi tantangan, kondisi ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berinovasi.

Petani dan distributor pangan dapat memanfaatkan momentum harga tinggi untuk meningkatkan produksi dan efisiensi distribusi.

Sementara sektor pendidikan dan kesehatan perlu menjaga kualitas layanan agar tetap terjangkau bagi masyarakat luas.

Dengan pengelolaan yang tepat, inflasi Kota Kotamobagu bisa menjadi indikator penting dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah.

Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bersinergi agar tekanan harga tidak menghambat pertumbuhan dan kesejahteraan. (*)