MANADO – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru yang menunjukkan Sulawesi Utara (Sulut) berhasil menjaga stabilitas harga dengan inflasi tahunan hanya 2,20 persen pada Maret 2026.
Angka ini menempatkan Sulut sebagai provinsi dengan inflasi terendah di seluruh Pulau Sulawesi, di bawah Sulawesi Selatan yang mencapai 4,50 persen.
Inflasi bulanan Sulut tercatat sebesar 0,25 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional 0,41 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi nasional, namun di Sulut harga beras, ikan segar, dan ayam ras relatif stabil berkat penguatan rantai pasok.
Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari koordinasi intensif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), kelancaran distribusi bahan pokok menjelang Paskah, serta optimalisasi stimulus transportasi dari pemerintah pusat yang menekan biaya logistik.
“Kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci menjaga daya beli,” ujarnya Gubernur.
Sementara itu, pedagang Pasar Bersehati Manado, Ibu Maria, mengaku harga beras dan ikan segar tetap stabil. “Kami tidak terlalu khawatir menjelang Paskah, karena pasokan lancar,” ujarnya.
Inflasi merupakan indikator penting kesehatan ekonomi. Angka rendah menunjukkan kestabilan harga dan daya beli masyarakat terjaga.
Sulut kini menjadi contoh pengendalian inflasi di kawasan timur Indonesia.
Dengan inflasi tahunan 2,20 persen, Sulut berhasil menjaga momentum positif di tengah tantangan global.
Pemprov Sulut berkomitmen melanjutkan strategi pengendalian harga demi pertumbuhan ekonomi inklusif dan kesejahteraan masyarakat.













