Berita Ekbis

Aktivitas Domestik Penopang Ekonomi Sulut di Triwulan-I 2025

×

Aktivitas Domestik Penopang Ekonomi Sulut di Triwulan-I 2025

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Sulut
Ekonomi Sulut di triwulan-1 2025. foto: Ist)

SulutPlus – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut) di triwulan-I tahun 2025 pada, Senin 5 Mei 2025.

Dimana, pada kuartal pertama 2025, laju ekonomi Sulut melambat jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski lambat, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi naik 5,62 persen (year-on-year) pada triwulan I-2025.

Menurut Kepala BPS Sulut, Aidil Adha, aktivitas ekonomi domestik menjadi penopang pertumuhan ekonomi Sulut di triwulan-I.

Baca Juga:  Bulog Sulut Tegaskan Beras SPHP Aman Dikonsumsi, Isu Beras Plastik Dipastikan Hoaks

Mulai dari faktor kebijakan dan momentum sosial-ekonomi sepanjang triwulan pertama tahun ini.

“Pelaksanaan program makan bergizi gratis, pemberian diskon harga tiket pesawat dan tarif listrik, serta pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) sebelum Lebaran menjadi stimulus yang kuat bagi konsumsi rumah tangga,” ujar Aidil.

Selain itu, momentum Hari Raya Keagamaan seperti Imlek, Nyepi, dan Idul Fitri turut memperkuat aktivitas ekonomi domestik. Peningkatan konsumsi terlihat dari kenaikan penjualan listrik serta meningkatnya jumlah angkutan laut dan udara yang tercatat tumbuh sebesar 7,6 persen.

Baca Juga:  Pertambangan Boleh jadi Unit Usaha Koperasi Desa Merah Putih

Sementara itu, impor luar negeri juga menunjukkan peningkatan, menandakan adanya kebutuhan bahan baku atau barang konsumsi yang lebih besar di daerah ini.

Meski demikian, secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi Sulut mengalami kontraksi sebesar -7,66 persen dibandingkan triwulan IV-2024.

Baca Juga:  Langowan Resmi DOB Tahun 2025

Aidil menjelaskan bahwa kontraksi ini bersifat musiman, yang lazim terjadi usai puncak aktivitas ekonomi di akhir tahun.

Secara umum, meski mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan triwulan I-2024, pertumbuhan ekonomi Sulut tetap berada pada jalur positif, ditopang oleh kebijakan efisiensi dan peningkatan daya beli masyarakat. (*)