JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada April 2026 mengalami inflasi sebesar 0,13% secara bulanan (month-to-month/mtm).
Angka ini menunjukkan tren perlambatan dibandingkan laju inflasi Maret 2026 yang sempat menyentuh 0,41%.
Meski secara keseluruhan melandai, tekanan pada sektor transportasi dan komoditas pangan tertentu tetap menjadi catatan merah yang perlu diwaspadai masyarakat dan pemangku kebijakan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok pengeluaran transportasi menjadi kontributor terbesar inflasi bulan ini dengan kenaikan sebesar 0,99% dan andil inflasi 0,12%.
“Komoditas dominan yang mendorong inflasi adalah tarif angkutan udara dengan andil 0,11%, serta bensin dengan andil 0,02%,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Kenaikan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi per 18 April 2026.
Lonjakan harga yang cukup signifikan terlihat pada:Pertamax Turbo: Naik 48,1% menjadi Rp19.400 per liter.Dexlite: Naik 66,2% menjadi Rp23.600 per liter.
Pertamina Dex: Naik 64,8% menjadi Rp23.900 per liter. Realisasi di Bawah Konsensus PasarMenariknya, realisasi inflasi 0,13% ini jauh lebih rendah dari proyeksi pasar.
Sebelumnya, konsensus dari 13 institusi memperkirakan inflasi April akan berada di angka 0,43% (mtm) dengan inflasi tahunan (year-on-year) di level 2,72%.
Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, memberikan perspektif mendalam mengenai fenomena ini.
Menurutnya, meskipun harga BBM dan transportasi naik, ada pergerakan harga komoditas lain yang saling mengimbangi.
“Kenaikan memang terjadi pada komoditas pangan seperti beras, minyak goreng, daging, dan cabai merah. Namun, pelemahan harga emas dunia memberikan sedikit napas bagi inflasi inti,” jelas Juniman.
Ia juga menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang sempat menyentuh Rp17.320 turut memicu tekanan pada barang-barang impor (imported inflation).
Selain sektor energi, BPS mencatat beberapa komoditas pangan yang memberikan andil inflasi, antara lain: Minyak Goreng: Andil 0,05%, Tomat: Andil 0,03%, dan Beras: Andil 0,02%.

Penurunan laju inflasi dari Maret ke April ini memberikan sinyal bahwa intervensi pasar mulai bekerja, namun tingginya biaya logistik akibat kenaikan BBM nonsubsidi berpotensi menjadi “bom waktu” bagi harga pangan di bulan-bulan mendatang.








