MANADO, SulutPlus.news – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, resmi melantik jajaran pengurus dan penasehat Kerukunan Keluarga Toraja (KKT) Sulut periode 2025–2030 dalam sebuah upacara adat yang hangat dan penuh semangat kekeluargaan di Rumah Tongkonan, Kompleks Taman Budaya Manado, Buha Mapanget.
Pelantikan ini menjadi momen penting bagi komunitas Toraja di Sulut, menegaskan komitmen pelestarian budaya sekaligus kontribusi aktif dalam pembangunan daerah.
Yasir Taruk Bua kembali dipercaya sebagai Ketua KKT Sulut melalui aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar sebelumnya pada 11 November 2025 di Graha Gubernuran Bumber.
Dalam sambutannya, Yulius Selvanus yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI), menyampaikan pesan filosofis. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Pesan ini, menurut Yulius, menjadi pengingat penting bagi warga Toraja untuk tetap menjunjung tinggi adat dan nilai-nilai lokal, sekaligus mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial di Sulawesi Utara.
Gubernur hadir didampingi istrinya, Ny. Anik Wandriani Yulius Selvanus, Ketua TP PKK Sulut, serta sejumlah pejabat Pemprov seperti Asisten I Dr. Denny Mangala, M.Si (Plt Kadis Kominfo), Asisten III, Kadis Kebudayaan, dan Karo Umum.
“KKT Sulut telah menunjukkan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah. Saya harap organisasi ini terus menjaga kekompakan, toleransi, dan persaudaraan,” ujar Yulius dalam wawancara langsung seusai pelantikan.
Ketua terpilih, Yasir Taruk Bua, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program kerja sebelumnya dan memperkuat sinergi dengan Pemprov Sulut.
Ia juga menegaskan kesiapan KKT Sulut dalam menjalankan arahan PMTI, khususnya pelestarian budaya Toraja seperti konservasi Rumah Adat Tongkonan.
“Kami akan menjaga nilai-nilai persatuan dan gotong royong sebagaimana tema Musda kami: ‘Misa Kada Di Potuo Pantan Kada Di Pomate’,” kata Yasir.
KKT Sulut juga telah ditetapkan sebagai anggota tetap PMTI, memperkuat posisi organisasi dalam jaringan nasional masyarakat Toraja.
Dr. Denny Mangala menambahkan bahwa Pemprov Sulut membuka ruang kolaborasi lintas komunitas untuk memperkuat kerukunan dan identitas budaya lokal.
“KKT Sulut menjadi contoh bagaimana komunitas diaspora bisa berkontribusi positif tanpa kehilangan akar budaya,” ujarnya.
Menurut data Dinas Kebudayaan Sulut (2025), komunitas Toraja di Sulut berjumlah lebih dari 12.000 jiwa, tersebar di Manado, Minahasa, Bolaang Mongondow Raya, dan Bitung.
KKT Sulut aktif dalam kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan, termasuk pelatihan bahasa daerah dan konservasi rumah adat.***













