MANADO – Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling (YSK) langsung bergerak ke Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Selasa (6/1/2026), untuk meninjau lokasi banjir bandang yang menelan 14 korban jiwa.
Banjir bandang melanda Lindongan III, Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak akhir pekan lalu. Peristiwa ini menimbulkan kerusakan parah dan membuat warga harus mengungsi.
Gubernur YSK bersama jajaran Forkopimda Sulut berangkat dari Bandara Sam Ratulangi Manado menggunakan pesawat Susi Air pukul 14.30 WITA. Turut mendampingi sejumlah pejabat Pemprov Sulut dan instansi terkait. Kunjungan dilakukan segera setelah rapat koordinasi Forkopimda pada pagi hari.
“Tujuan utama kunjungan ini adalah memastikan penanganan darurat berjalan cepat, tepat sasaran, serta mempercepat pemulihan daerah dan warga terdampak,” ujar Gubernur YSK.
Di lokasi, Gubernur dijadwalkan bertemu langsung dengan korban, mendengar keluhan warga, serta menerima laporan resmi dari Pemkab Sitaro, BPBD, dan aparat keamanan.
Catatan BPBD Sulut menunjukkan Pulau Siau termasuk wilayah rawan bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi dan kondisi geografis berbukit. Warga menyebut banjir kali ini lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Air datang sangat cepat, kami tidak sempat menyelamatkan barang. Yang terpenting saat itu hanya lari menyelamatkan diri,” kata Maria Langi, salah seorang warga.
Menurut Kepala BPBD Sulut, langkah darurat yang dilakukan meliputi evakuasi korban, pendirian posko pengungsian, serta distribusi logistik. Pemerintah pusat juga diminta segera menyalurkan bantuan tambahan.
“Kami hadir untuk memastikan seluruh proses penanganan berjalan baik. Tidak boleh ada warga yang terabaikan. Pemulihan harus segera dilakukan dengan kolaborasi semua pihak,” tegas Gubernur YSK.
Data BNPB mencatat sepanjang 2025, Sulawesi Utara mengalami 37 kejadian bencana hidrometeorologi. Kabupaten Kepulauan Sitaro termasuk daerah paling terdampak, dengan akses bantuan sering terkendala transportasi akibat kondisi geografis kepulauan.













