Rincian Berita
1. Kemenkes RI ingatkan potensi lonjakan kasus campak saat libur Lebaran, mobilitas tinggi jadi faktor utama penularan.
2. Sepanjang 2026 tercatat 10.453 suspek campak, dengan tambahan 506 kasus baru pada minggu ke-8, tren perlu diwaspadai.
3. Masyarakat diminta segera periksa ke fasilitas kesehatan bila ada gejala campak, serta hindari kerumunan demi pencegahan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat akan potensi peningkatan kasus campak menjelang libur Lebaran 2026, seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas berkumpul di berbagai daerah.
Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa tren kenaikan kasus campak dalam lima tahun terakhir kerap terjadi pada periode libur panjang.
“Data kami menunjukkan pola peningkatan kasus berhubungan dengan perayaan yang melibatkan kerumunan. Setelah menurun di awal tahun, kasus biasanya kembali naik pada Agustus hingga November,” ujar Andi dalam konferensi pers daring, Jumat (6/3).
Sepanjang 2026 tercatat 10.453 suspek campak. Pada minggu ke-8, terdapat penambahan 506 kasus baru, dibandingkan minggu sebelumnya.
Untuk itu, Andi meminta masyarakat untuk tidak bepergian bila mengalami gejala campak seperti demam dan ruam merah.
Kemudian segera memeriksakan anak atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan. Mengurangi kontak dengan orang sehat untuk mencegah penularan.
“Individu dengan gejala suspek campak sebaiknya melakukan isolasi mandiri dan menghindari tempat wisata maupun keramaian,” tegasnya.
Di Sulawesi Utara, Dinas Kesehatan setempat juga mengingatkan bahwa mobilitas mudik Lebaran berpotensi mempercepat penyebaran penyakit menular.
Lonjakan kasus campak saat libur panjang mencerminkan tantangan klasik kesehatan masyarakat: interaksi sosial yang tinggi memperbesar risiko penularan penyakit menular.
Faktor lain yang berkontribusi adalah cakupan imunisasi yang belum merata di beberapa wilayah.







