Berita KotamobaguHukum & Kriminal

Temui Bulog, Kapolres Kotamobagu Bahas Soal Harga Jagung dan Dominasi Tengkulak

Sulutplus.News - 

×

Temui Bulog, Kapolres Kotamobagu Bahas Soal Harga Jagung dan Dominasi Tengkulak

Sebarkan artikel ini
Kapolres Kotamobagu Menemui Kepala Bulog Bolmong
Kapolres Kotamobagu Menemui Kepala Bulog Bolmong

SulutPlus.News, Kotamobagu – Kapolres Kotamobagu AKBP Irwanto SIK MH temui Kepala Perum Bulog Sub Divre Bolaang Mongondow, Ismail Aziz, guna membahas harga jagung yang ada di Bolaang Mongondow Raya khususnya petani di Kota Kotamobagu.

Langka itu diambil Kapolres Kotamobagu, setelah adanya keluhan para petani jagung terkait harga jual hasil panen yang tidak sesuai harapan dan dominasi tengkulak dalam rantai distribusi hasil pertanian.

Baca Juga:  Gunakan Alat Berat, GMPK Sulut Desak Polda Sulut Tindak Pemodal PETI di Boltim

Selain itu, agenda pertemuan titik awal dalam sinergi antara aparat kepolisian dan instansi terkait untuk mencari mekanisme yang dapat menstabilkan harga jagung sekaligus memotong dominasi pihak tengkulak yang kerap merugikan petani.

“Para petani sudah menyuarakan keluhannya, dan itu harus kita tanggapi dengan langkah nyata. Koordinasi dengan Bulog menjadi salah satu bentuk kepedulian Polres terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani,” ujar Kapolres Irwanto.

Baca Juga:  Pimpinan DPRD Kotamobagu Jalani Tes Kesehatan di Rs Kandouw Manado

Lebih lanjut, pertemuan ini juga membahas kemungkinan intervensi Bulog dalam menyerap hasil panen petani dengan harga yang wajar dan menguntungkan, sebagai bentuk perlindungan terhadap produsen lokal.

Kepala Perum Bulog Sub Divre Bolmong, Ismail Aziz, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyatakan kesiapan Bulog untuk menjadi bagian dari solusi jangka panjang terhadap persoalan harga komoditas pertanian di wilayah ini.

Baca Juga:  Bapemperda DPRD Kotamobagu Gelar Rapat Harmonisasi Ranperda LPPB

Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat memperkuat posisi petani jagung di pasar lokal, meminimalisasi praktik curang tengkulak, serta menciptakan ekosistem pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan. (*)