Boltim, SulutPlus.news — PT Mangimbali Sejahtera akhirnya angkat bicara terkait hilangnya ratusan tabung gas elpiji milik empat pangkalan di Desa Tombolikat Bersatu, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).
Komisaris PT Mangimbali Sejahtera, Aprisilia Sumelap, menjelaskan bahwa insiden tersebut bukan disebabkan oleh perusahaan, melainkan oleh seorang mantan sopir yang pernah bekerja di perusahaan tersebut.
“Peristiwa ini terjadi sekitar empat bulan lalu. Kami sudah melaporkan dugaan penggelapan tabung gas ke Polres Boltim sejak Mei 2025,” ujar Aprisilia.
Ia menambahkan, perusahaan juga mengalami kerugian akibat tindakan mantan sopir tersebut. Selain tabung milik pangkalan, tabung milik perusahaan pun turut dibawa kabur.
“Jumlah tabung dari empat pangkalan sekitar 220. Sementara milik perusahaan satu truk berisi sekitar 560 tabung juga hilang. Kami pun terdampak,” jelasnya.
Meski demikian, PT Mangimbali Sejahtera tetap berkomitmen untuk bertanggung jawab atas kehilangan tabung milik pangkalan. Aprisilia menyebut telah berdiskusi langsung dengan para pemilik pangkalan dan bahkan meminjamkan 20 tabung sebagai bentuk itikad baik.
“Kami tidak pernah lari dari tanggung jawab. Saya sudah bertemu dengan pemilik pangkalan untuk mencari solusi bersama,” katanya.
Ia juga mendukung langkah hukum jika ada pangkalan yang ingin melapor ke kepolisian secara mandiri.
“Kalau ada yang melapor, itu lebih baik. Supaya pelaku bisa segera dimintai pertanggungjawaban,” tegas Aprisilia.
Terkait isu kelangkaan elpiji di wilayah Boltim, Aprisilia membantah. Menurutnya, distribusi tetap berjalan normal ke seluruh pangkalan.
“Setiap hari kami suplai ke 120 pangkalan yang ada. Tidak ada kelangkaan,” tutupnya.
Sebelumnya, empat pangkalan elpiji di Boltim sempat menyampaikan keluhan atas hilangnya tabung-tabung mereka dan menduga perusahaan sebagai pihak yang bertanggung jawab.
“Kami sudah berulang kali menanyakan, tapi belum ada kepastian. Tabung-tabung itu modal utama kami. Kalau tidak dikembalikan, usaha kami bisa lumpuh,” kata Rujani Matoka, salah satu pemilik pangkalan.
Situasi ini menyebabkan pasokan gas di wilayah tersebut terbatas dan memicu keresahan masyarakat. Keempat pangkalan sepakat akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.
“Ini bukan sekadar urusan bisnis, tapi soal tanggung jawab,” ujar Azwar Gaib, pemilik pangkalan lainnya.













