MANADO – Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, menetapkan langkah strategis tahun 2026 dengan fokus pada pengendalian inflasi, percepatan digitalisasi, dan pertumbuhan ekonomi agresif.
Arahan ini disampaikan dalam High Level Meeting (HLM) bersama TPID, TP2DD, TP2ED, TPAKD, dan KDEKS di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut, Senin (23/02).
Pertemuan yang dihadiri bupati dan wali kota se-Sulut menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sulut tumbuh 5,66% pada 2025, melampaui rata-rata nasional 5,11%. Inflasi tahunan tercatat 1,23%, dengan beras (0,49%) dan biaya perguruan tinggi (0,25%) sebagai penyumbang terbesar.
“Pengendalian inflasi tetap prioritas. Kita harus memperkuat ketahanan pangan, mengoptimalkan peran BUMD, dan memastikan operasi pasar berjalan tepat sasaran,” tegas Yulius.
Pemerintah Provinsi menetapkan empat pilar utama: transformasi digital melalui percepatan digitalisasi pendapatan dan belanja daerah, percepatan investasi dan hilirisasi industri manufaktur, perluasan akses keuangan inklusif bagi petani, nelayan, dan UMKM, serta pengembangan ekonomi syariah melalui industri halal dan pariwisata.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut, Arief Santoso, menambahkan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal di daerah akan terus diperkuat untuk menjaga daya beli masyarakat.
Gubernur menutup arahannya dengan penekanan pada kolaborasi. “Kita harus bergerak bersama secara terukur dan fokus demi kesejahteraan rakyat Sulut,” katanya.













