SulutPlus.news – Tanjung Verde mencetak sejarah dengan memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Eswatini 3-0 di Stadion Nasional, Praia.
Negara kepulauan berpenduduk sekitar 525.000 jiwa ini menjadi negara terkecil kedua yang pernah lolos ke ajang empat tahunan tersebut, setelah Islandia pada 2018.
Tim nasional Tanjung Verde, yang dijuluki “Si Hiu Biru”, tampil gemilang di babak kualifikasi zona Afrika.
Di bawah asuhan pelatih Pedro Leitao Brito alias Bubista, mereka mengumpulkan 23 poin dari 10 laga dan keluar sebagai juara Grup D, unggul atas Kamerun yang finis di posisi kedua dengan 19 poin.
Kemenangan atas Eswatini pada Selasa (14/10/2025) menjadi penentu. Gol-gol dicetak oleh Dailon Livramento (Rotterdam), Willy Semedo (Bordeaux), dan satu gol tambahan dari pemain diaspora lainnya.
Seluruh starter dalam laga tersebut merupakan pemain diaspora yang lahir di luar negeri, termasuk dari Portugal, Belanda, Irlandia, hingga Uni Emirat Arab.
Mengapa Diaspora Jadi Kunci?

Dengan liga domestik yang hanya diikuti 12 klub dan minimnya fasilitas pembinaan, Federasi Sepak Bola Tanjung Verde memilih strategi berbeda: membangun tim dari diaspora.
Mereka aktif mencari pemain keturunan melalui berbagai jalur, termasuk LinkedIn.
Salah satu kisah menarik datang dari Roberto Lopes, bek yang lahir di Dublin dan ditemukan lewat jejaring profesional.
“Kami tersebar di seluruh dunia. Ketika bersatu, kami bisa menciptakan sesuatu yang luar biasa,” ujar Lopes kepada BBC Sport.
Pelatih Bubista, yang mulai membangun tim sejak Januari 2020, menyebut kelolosan ini sebagai hadiah untuk rakyat dan simbol perayaan 50 tahun kemerdekaan Tanjung Verde.
“Ini kemenangan untuk semua yang telah berjuang demi negara kami,” katanya dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Federasi tetap mempercayai Bubista meski gagal lolos ke Piala Afrika 2025. Visi jangka panjang dan konsistensi menjadi kunci. Tim ini sebelumnya juga sempat memuncaki grup yang diisi Ghana dan Mesir di Piala Afrika 2023.
Pelajaran untuk Negara Kecil Lain
Keberhasilan Tanjung Verde menunjukkan bahwa jumlah penduduk bukan penghalang untuk tampil di panggung dunia.
Dengan strategi diaspora, kepercayaan terhadap pelatih, dan visi pembangunan yang konsisten, negara kecil pun bisa menembus batas.
“Kami bukan hanya lolos. Kami membuktikan bahwa proses dan kepercayaan bisa mengalahkan keterbatasan,” ujar Bubista. (*)

