KOTAMOBAGU – Kasus penipuan dengan modus baru, yakni “skema segita” berhasil diungkap Sat Reskrim Polres Kotamobagu di bawah komando AKP Agus Sumandik.
Menurut Agus, pengungkapan bermula dari laporan korban Renaldi Goni dengan LP STTLP/B/288/VI/2025/SPKT/POLRES KOTAMOBAGU/POLDA SULUT, tertanggal 9 Juni 2025.
Dalam laporannya, Renaldi mengungkapkan dirinya telah ditipu oleh oknum Bank BRI Manado DW alias Dev, kemudian dikembangkan pihaknya.
Nah, dalam penanganannya, polisi mendapati ada skema cerdik yang diperankan oleh Dev untuk mendapat uang ratusan juta milik Renaldi. “Modus penipuan menggunakan skema segitiga,” kata Agus
Bagaimana Modus Skema Segitiga Berjalan?
Modus yang digunakan pelaku dikenal sebagai “Skema Segitiga”, sebuah teknik manipulatif yang memanfaatkan celah kepercayaan antara tiga pihak: penjual, pembeli, dan pihak ketiga.
Dalam kasus ini, korban bernama Renaldi Goni, warga Kotamobagu, menjadi target penipuan setelah tertarik membeli mobil Toyota Avanza Veloz yang ditawarkan oleh DW alias Dev, seorang pegawai Bank BRI.
Setelah kesepakatan tercapai, keduanya melakukan transaksi di BRI Unit Modayag. Renaldi mentransfer dana sebesar Rp146 juta ke rekening DW sebagai pembayaran penuh.
Namun, mobil yang dijanjikan tak pernah sampai ke tangan Renaldi. DW pun menghilang, meninggalkan jejak kasus yang kini menjadi sorotan hukum.
“Dalam gelar perkara resmi, DW ditetapkan sebagai tersangka. Panggilan pertama dan kedua telah dilayangkan, dan jika tidak diindahkan, penjemputan paksa akan dilakukan,” tegas Agus.
Sementara itu, Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto SIK MH, memberikan apresiasi atas langkah cepat dan tegas yang diambil oleh AKP Agus dan timnya.
Pengungkapan ini menjadi bukti bahwa kejahatan dengan modus baru sekalipun tidak akan lolos dari jerat hukum di bawah kepemimpinan yang profesional.
Perbuatan Dev Rugikan Bank BRI
Keterlibatan DW sebagai pegawai Bank BRI menimbulkan pertanyaan besar tentang integritas dan pengawasan internal lembaga keuangan tersebut.
Bank BRI, sebagai salah satu bank terbesar dan paling dipercaya di Indonesia, kini menghadapi tantangan untuk menjaga reputasi dan memastikan bahwa oknum seperti DW tidak mencoreng citra institusi.
Kasus ini juga membuka diskusi publik tentang perlunya sistem verifikasi yang lebih ketat dalam transaksi jual beli yang melibatkan pegawai bank.
Apakah Bank BRI memiliki mekanisme internal yang cukup untuk mencegah penyalahgunaan jabatan oleh stafnya?
Dampak Terhadap Kredibilitas Bank BRI
Skandal ini berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap institusi perbankan, khususnya Bank BRI.
Meski kasus ini melibatkan individu, bukan sistem, publik tetap menuntut transparansi dan tindakan tegas dari pihak bank.
Kredibilitas Bank BRI sebagai lembaga keuangan yang melayani jutaan nasabah kini diuji.
Pelajaran Penting Bisa Diambil
Kasus ini mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam transaksi, terutama jika melibatkan pihak yang mengaku memiliki koneksi dengan institusi besar seperti bank.
Masyarakat harus lebih waspada terhadap tawaran yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Selain itu, institusi seperti Bank BRI perlu memperkuat sistem pengawasan internal dan memberikan edukasi kepada pegawai tentang etika profesional.
Penipuan dengan modus segitiga ini menunjukkan bahwa kejahatan bisa terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan yang dianggap aman dan terpercaya.(*)












