Ringkasan Berita:
- Bareskrim Polri resmi mengambil alih penanganan kasus pertambangan emas ilegal di Gunung Patung, Desa Mopait, Kabupaten Bolaang Mongondow.
- Polda Sulawesi Utara turut melakukan penyelidikan paralel untuk mendalami dugaan keterkaitan aktivitas operasional PT Bulawan Daya Lestari (BDL) terhadap pemicu longsor maut.
- Tragedi longsor yang terjadi pada Kamis (25/6/2026) tersebut menelan dua korban jiwa, merusak sejumlah alat berat, dan memicu pemeriksaan intensif terhadap kepala desa hingga pemilik lahan.
BOLMONG – Bareskrim Polri resmi mengambil alih penyidikan kasus pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Gunung Patung, Desa Mopait, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
Sementara itu, Polda Sulawesi Utara kini tengah mendalami dugaan keterlibatan aktivitas operasional PT Bulawan Daya Lestari (BDL) di balik tragedi longsor maut tersebut.
Langkah tegas dua institusi kepolisian ini diambil menyusul bencana longsor yang terjadi pada Kamis (25/6/2026).
Insiden tragis di kawasan tambang ilegal tersebut mengakibatkan dua penambang tewas, satu korban masih dinyatakan hilang, serta mengubur sejumlah alat berat di lokasi kejadian.
Saat ini, tim penyidik Bareskrim Polri telah berada di Polres Kotamobagu untuk memeriksa sejumlah saksi kunci.
Pemeriksaan menyasar pemilik lahan, pelaku tambang, pemilik ekskavator yang tertimbun, hingga Kepala Desa Mopait, Suryadi Datundugon.
Di sisi lain, Direktorat Reserse Kriminal Polda Sulawesi Utara memfokuskan penyelidikan pada penyebab utama runtuhnya material.
Penyidik menelusuri apakah timbunan material overburden (OB) atau aktivitas pemotongan lahan dari area PT BDL menjadi pemicu longsor yang menewaskan pekerja tersebut.
Pemisahan fokus perkara ini menunjukkan komitmen aparat dalam mengusut tuntas tragedi secara menyeluruh.
Polisi tidak hanya mengejar pelaku penambangan ilegal, tetapi juga membuka peluang penyelidikan atas dugaan kelalaian korporasi terkait aspek keselamatan operasi dan dampak lingkungan di sekitar wilayah tambang.
Di lokasi kejadian, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan warga setempat masih terus berupaya melakukan pencarian korban hilang.
Medan yang tertutup material longsoran bervolume besar menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi di lapangan.







