Kadang kita merasa Facebook sedang ramai membicarakan sesuatu hanya karena hal itu terus muncul di layar smartphone kita.
Sebuah nama muncul dalam unggahan. Kita membacanya. Kemudian muncul lagi di unggahan lain. Ada komentar, tanggapan, bahkan percakapan baru.
Karena terus melihatnya, kita mulai merasa bahwa nama itu sedang dibicarakan banyak orang.
Padahal, beranda Facebook bukanlah halaman yang sama untuk semua orang.
Apa yang saya lihat belum tentu Anda lihat. Apa yang berulang kali muncul di layar saya belum tentu muncul dengan cara yang sama di layar orang lain.
Di antara pengguna dan konten yang tampil, ada sistem yang bekerja memilih dan menyusunnya.
Kita menyebutnya algoritma.
Karena itu, sesuatu bisa terlihat sangat besar di satu beranda, tetapi tidak mempunyai ruang yang sama di beranda orang lain.
Belakangan, saya melihat hal itu dalam percakapan tentang Norma Ali. Namanya muncul dalam sejumlah unggahan dan tanggapan di Facebook. Dari satu unggahan, percakapan bergerak ke pengguna lain.
Saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa semua orang sedang membicarakan hal yang sama.
Pertanyaan yang lebih menarik justru sederhana: mengapa sesuatu yang sudah kita lihat bisa kembali kepada kita?
Sebagian jawabannya mungkin ada pada diri kita sendiri.
Ketika membuka sebuah postingan, kita meninggalkan jejak. Kita membaca, melihat komentar, berhenti lebih lama, menonton video, memberi tanda suka atau menulis tanggapan.
Bahkan ketika kita membagikan sesuatu karena tidak setuju, tetap ada aktivitas yang terjadi.
Bagi sistem, aktivitas itu menjadi sinyal.
Sesuatu yang pernah menarik perhatian kita kemudian dapat kembali muncul karena dianggap relevan. Kadang melalui unggahan yang sama, kadang melalui unggahan pengguna lain.
Di sinilah kita sering keliru membaca keadaan.
Kita melihat sesuatu berulang kali, lalu merasa pengulangan itu berasal dari dunia di luar sana.
Padahal, sebagian bisa muncul karena cara kita sendiri menggunakan media sosial.
Yang menarik, perhatian tidak selalu berarti persetujuan.
Kita bisa tidak menyukai sebuah unggahan, tetapi tetap membaca komentarnya. Kita bisa tidak setuju dengan isinya, tetapi ikut menulis tanggapan. Kita merasa terganggu, namun masih membuka unggahan berikutnya.
Kita merasa sedang menjauh dari sebuah konten, padahal masih berinteraksi dengannya.
Dari situ sebuah percakapan bisa terus hidup. Perdebatan melahirkan komentar. Komentar memunculkan tanggapan. Tanggapan dapat menjadi unggahan baru. Sebuah nama atau topik pun mendapat kesempatan untuk bertahan lebih lama di media sosial.
Mungkin karena itu saya menggunakan istilah “Norma Algoritma”.
Bukan untuk mengatakan bahwa algoritma membuat Norma Ali menjadi terkenal. Saya juga tidak bermaksud menyimpulkan bahwa apa yang ramai di Facebook otomatis merupakan gambaran pendapat semua orang.
Istilah itu saya gunakan untuk melihat pertemuan antara sebuah nama, perhatian pengguna, dan sistem yang mengatur apa yang kembali kita lihat.
Ada satu hal yang menurut saya penting: ramai di Facebook tidak selalu sama dengan ramai di masyarakat.
Keduanya bisa bertemu, tetapi tidak otomatis sama.
Saya bisa merasa satu persoalan sangat besar karena hampir setiap kali membuka Facebook, persoalan itu muncul. Orang lain mungkin tidak merasakan hal yang sama.
Bukan berarti salah satu dari mereka sedang berbohong. Hanya saja, berada di beranda yang berbeda.
Di situlah persoalannya menjadi menarik. Apa yang kita lakukan di media sosial ikut memengaruhi apa yang kemudian hadir kembali di hadapan kita.
Kita memberi perhatian, sistem membaca jejak itu, lalu sesuatu yang dianggap relevan bisa muncul lagi.
Siklus tersebut berlangsung begitu biasa sehingga sering tidak kita sadari.
Pengulangan kemudian mempunyai kekuatan sendiri. Sesuatu yang terus kita lihat lama-lama terasa akrab.
Yang terasa akrab mudah kita anggap penting. Ketika terus muncul, kita pun semakin mudah percaya bahwa banyak orang sedang melihat hal yang sama.
Padahal, bisa saja kita hanya sedang melihat bagian tertentu dari dunia digital yang terbentuk dari kebiasaan kita sendiri.
Ini bukan berarti apa yang terjadi di Facebook tidak penting. Media sosial memang telah menjadi ruang tempat orang berbicara, bereaksi, menyebarkan informasi, dan membentuk percakapan.
Tetapi layar yang kita lihat tetap bukan keseluruhan masyarakat.
Norma Ali, dalam konteks ini, menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah nama dapat masuk ke dalam percakapan digital.
Orang membaca, menanggapi, membagikan, lalu pengguna lain ikut melihat. Dari sana, percakapan memperoleh ruang untuk berlanjut.
Pada akhirnya, apa yang kita lihat di Facebook bukanlah seluruh dunia. Ia adalah bagian dari dunia yang sampai kepada kita melalui pilihan kita sendiri dan sistem yang bekerja di belakang layar.
Karena itu, mungkin kita perlu sedikit berhati-hati ketika mengatakan, “Semua orang sedang membicarakan ini.”
Bisa jadi memang banyak orang membicarakannya.
Tetapi bisa juga kalimat itu muncul karena kita terlalu sering melihatnya sendiri.
Mungkin itu inti dari “Norma Algoritma”.
Sebuah nama bisa terus datang kepada kita bukan hanya karena banyak orang membicarakannya, tetapi juga karena kita sendiri pernah memberi perhatian kepadanya.
Algoritma menyediakan jalur. Kita ikut meninggalkan jejaknya.






