Berita Ekbis

Menkeu Tegaskan Ekonomi RI Tak Ulangi Krisis 1997-1998

Sulutplus.News - 

×

Menkeu Tegaskan Ekonomi RI Tak Ulangi Krisis 1997-1998

Sebarkan artikel ini
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Ist

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak mengindikasikan krisis seperti 1997-1998.

Pemerintah bersama Bank Indonesia memastikan koordinasi fiskal dan moneter berjalan seirama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Purbaya menyampaikan hal tersebut saat menghadiri kegiatan di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6).

Ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan kondisi fiskal yang sehat.

Menurutnya, pelemahan rupiah lebih dipicu oleh sentimen negatif global yang memengaruhi pasar keuangan.

“Yang penting gini, kita tidak sedang menuju keadaan seperti krisis 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus,” ujarnya.

Baca Juga:  BSU Oktober 2025 Tak Dicairkan Serentak, Ini Penjelasan Resminya

Purbaya menambahkan, koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi kunci untuk mengatasi tekanan nilai tukar.

“Itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik-baik antara pemerintah, Departemen Keuangan, dengan Bank Indonesia,” katanya.

Di Kompleks Parlemen Senayan, Purbaya hadir bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Sekretaris Prasetyo Hadi, dan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.

Dalam konferensi pers tersebut, ia menegaskan komitmen pemerintah menjaga kebijakan fiskal agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Baca Juga:  Gubernur Yulius Selvanus Pastikan Pajak Kendaraan 2026 Tidak Naik, Warga Dapat Keringanan

Sementara itu, Perry Warjiyo menekankan pentingnya sinergi fiskal dan moneter dalam menghadapi dinamika global.

Ia menyebut ada dua langkah utama yang disepakati BI dan Kemenkeu.

Pertama, meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing kembali masuk.

Perry menjelaskan kenaikan suku bunga global telah memicu arus keluar modal dari saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kedua, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Pemerintah akan tetap menempatkan dana kas di Bank Indonesia, sementara BI memberikan remunerasi lebih tinggi atas dana tersebut.

Baca Juga:  PLN Hadirkan Diskon Tambah Daya Listrik Hingga 50 Persen Lewat Program KALCER 2025

“Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah sementara operasi fiskalnya juga mendukung,” jelas Perry.

Ia menegaskan koordinasi fiskal-moneter yang sudah terjalin akan terus diperkuat secara berkesinambungan.

“Kami sepakat ini akan terus kita lakukan. Penguatan koordinasi fiskal yang sudah kuat selama ini sekarang diperkuat dan secara berkesinambungan terus akan diperkuat,” ucapnya.

Dengan langkah tersebut, pemerintah dan BI optimistis stabilitas rupiah dapat terjaga, sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.