.JAKARTA – Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan berat sepanjang kuartal pertama 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah akibat ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi sentimen domestik.
Namun, emiten di bawah naungan PT Pertamina (Persero) justru memperlihatkan ketahanan fundamental yang kuat.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa pergerakan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional perusahaan.
“Sektor energi memiliki karakter defensif yang mampu menjadi bantalan di tengah volatilitas pasar,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Ketidakpastian pasar dipicu oleh meningkatnya risiko di pasar negara berkembang (emerging markets).
Meski demikian, anak usaha Pertamina yang tercatat di burs, PGAS, ELSA, PGEO, dan TUGU, mampu bertahan lebih stabil dibandingkan rata-rata indeks sektoral energi.
“Karakter bisnis energi yang esensial membuat kami lebih mampu meredam dampak volatilitas,” kata Baron.
Pertamina tidak hanya bertahan, tetapi juga mengembangkan strategi dual growth dengan dua pilar utama:
1. Stabilitas Bisnis Inti, menjaga pasokan energi nasional melalui optimalisasi migas konvensional.
2. Transisi Energi Rendah Karbon, mempercepat pengembangan energi terbarukan lewat PGEO sebagai motor utama.
Langkah ini sejalan dengan target Net Zero Emission 2060.
Implementasi prinsip ESG di seluruh lini usaha menjadi daya tarik bagi investor global yang semakin selektif.









