Berita Nasional

Respons Iran atas Lobi Indonesia untuk Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sulutplus.News - 

×

Respons Iran atas Lobi Indonesia untuk Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Kapal tanker milik Pertamina tertahan di perairan Selat Hormuz, Iran, di tengah ketegangan geopolitik kawasan. Di sisi kanan, kapal patroli militer Iran mendekat untuk melakukan pemeriksaan. Pemerintah Indonesia masih melakukan negosiasi agar kapal dapat melanjutkan pelayaran. (Foto ilustrasi: Sulutplus.news)
Kapal tanker milik Pertamina tertahan di perairan Selat Hormuz, Iran, di tengah ketegangan geopolitik kawasan. Di sisi kanan, kapal patroli militer Iran mendekat untuk melakukan pemeriksaan. Pemerintah Indonesia masih melakukan negosiasi agar kapal dapat melanjutkan pelayaran. (Foto ilustrasi: Sulutplus.news)

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bersama PT Pertamina International Shipping (PIS) terus mengupayakan agar kapal tanker milik Pertamina dapat melintas aman di Selat Hormuz, di tengah ketidakpastian berakhirnya konflik Israel–Amerika Serikat dengan Iran.

Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama.

“PIS dan Kemlu saat ini membahas pengaturan teknis untuk memastikan pelayaran aman dua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro,” ujarnya.

Baca Juga:  Jadwal Penerimaan Gaji ke-13 ASN dan PPPK

Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Kedutaan Besar RI di Teheran telah menerima respons positif dari otoritas Iran.

“Seiring perkembangan, kami telah menerima sinyal positif dari pihak Iran,” katanya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menambahkan gangguan di Selat Hormuz tidak akan berdampak signifikan terhadap pasokan minyak Indonesia.

Baca Juga:  Pencopotan Budi Arie, Antara Reshuffle dan Skandal Judi Online

Menurutnya, hanya sekitar 20 persen impor minyak berasal dari Timur Tengah, sementara pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan dari Amerika Serikat.

Di tingkat regional, Malaysia dilaporkan lebih dahulu memperoleh akses melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperempat pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.

Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat jalur ini rawan gangguan.

Baca Juga:  Kepergian Kwik Kian Gie, Jejak Pemikiran Ekonomi yang Tetap Hidup

Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, berkepentingan menjaga kelancaran distribusi energi nasional.

Upaya diplomasi ini menegaskan komitmen pemerintah, khususnya di bawah arahan Menlu Sugiono, dalam melindungi kepentingan energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.

Keberhasilan pembebasan kapal tanker akan menjadi bukti nyata efektivitas diplomasi Indonesia.