Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) bersama PT Pertamina International Shipping (PIS) terus mengupayakan agar kapal tanker milik Pertamina dapat melintas aman di Selat Hormuz, di tengah ketidakpastian berakhirnya konflik Israel–Amerika Serikat dengan Iran.
Pelaksana Tugas Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menegaskan keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama.
“PIS dan Kemlu saat ini membahas pengaturan teknis untuk memastikan pelayaran aman dua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro,” ujarnya.
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyampaikan bahwa pihaknya bersama Kedutaan Besar RI di Teheran telah menerima respons positif dari otoritas Iran.
“Seiring perkembangan, kami telah menerima sinyal positif dari pihak Iran,” katanya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menambahkan gangguan di Selat Hormuz tidak akan berdampak signifikan terhadap pasokan minyak Indonesia.
Menurutnya, hanya sekitar 20 persen impor minyak berasal dari Timur Tengah, sementara pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan dari Amerika Serikat.
Di tingkat regional, Malaysia dilaporkan lebih dahulu memperoleh akses melintasi Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperempat pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.
Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuat jalur ini rawan gangguan.
Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, berkepentingan menjaga kelancaran distribusi energi nasional.
Upaya diplomasi ini menegaskan komitmen pemerintah, khususnya di bawah arahan Menlu Sugiono, dalam melindungi kepentingan energi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.
Keberhasilan pembebasan kapal tanker akan menjadi bukti nyata efektivitas diplomasi Indonesia.








