MANADO – Tradisi Iwadh, warisan budaya masyarakat keturunan Arab di Manado, kembali digelar pada Lebaran kedua, Minggu (22/3/2026).
Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay hadir langsung di Kampung Arab, menegaskan pentingnya silaturahmi sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Iwadh telah dijaga lebih dari sembilan dekade oleh komunitas Arab di Manado. Tradisi ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ruang perjumpaan hati, saling memaafkan, dan memperkuat kebersamaan setelah Ramadan.
Sejak pagi, lorong-lorong kampung dipenuhi warga yang berjalan dari rumah ke rumah. Doa dilantunkan imam, iringan rebana hadroh mengalun lembut, dan hidangan khas disuguhkan sebagai simbol rasa syukur.
Acara turut dihadiri Wali Kota Manado Andrei Angouw, Sekprov Deny Mangala, serta Plt Kadispora Sulut Audy Pangemanan.
Kehadiran pejabat daerah memperlihatkan dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi lokal. Mereka berjalan bersama warga, bersalaman, dan larut dalam suasana kebersamaan tanpa sekat.
Menurut Audy Pangemanan, Iwadh adalah simbol bahwa perbedaan justru menjadi kekuatan untuk saling menguatkan.
Nilai Islam yang ramah dan terbuka menyatu dengan kearifan lokal, memperkuat identitas Manado sebagai kota toleransi. Tradisi ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa keragaman di Sulut dapat hidup berdampingan dalam harmoni.







