MANADO – Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Victor Mailangkay, menegaskan bahwa arus investasi yang masuk ke bumi Nyiur Melambai tidak boleh hanya menjadi deretan angka di atas kertas laporan pertumbuhan ekonomi.
Investasi strategis wajib menetes hingga ke akar rumput dan membawa dampak kesejahteraan nyata bagi masyarakat lokal.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Victor saat menghadiri Dedicated Team Meeting Regional Investor Relations Unit (RIRU) Sulawesi Utara 2026 bersama jajaran kepala daerah se-Sulut di Manado, Kamis (21/5/2026).
Kehadiran Wagub dalam forum ini merupakan instruksi langsung dari Gubernur Sulut, Yulius Selvanus Komaling.
Victor mengingatkan para kepala daerah bahwa di balik setiap kebijakan investasi yang diketuk, ada ekspektasi besar dari masyarakat kelas pekerja yang menggantungkan hidupnya pada kebijakan pemerintah.
“Anak-anak muda berharap bisa bekerja di daerah sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah. Nelayan ingin hasil lautnya dihargai lebih baik, dan petani berharap hasil kebun mereka punya nilai tambah untuk kehidupan keluarga mereka,” ujar Mailangkay di hadapan forum.
Ia menambahkan, indikator keberhasilan investasi yang paling sahih adalah lahirnya peluang kerja baru dan penguatan daya beli masyarakat di berbagai sektor riil, bukan sekadar visualisasi grafik pertumbuhan yang impresif.
“Bagi saya, investasi bukan sekadar angka atau laporan. Di balik itu ada kesempatan kerja yang harus dibuka. Ada tanggung jawab pemerintah untuk membuat masyarakat merasa dipermudah, bukan dipersulit,” cetusnya.
Selain itu, Victor mengkritik kecenderungan daerah yang kerap bernostalgia pada kekayaan alam tanpa membenahi sistem birokrasi di internal pemerintahan.
Menurutnya, mempromosikan destinasi wisata andalan dan kelimpahan sumber daya alam (SDA) Sulawesi Utara akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan good governance yang bersih dan responsif.
“Kita tidak boleh hanya bangga bercerita tentang indahnya Sulawesi Utara tanpa benar-benar menyiapkan daerah ini agar siap berkembang. Pelayanan publik harus lebih sederhana, lebih cepat, dan lebih bersih,” tegasnya menyoroti aspek akuntabilitas.
Lebih jauh, ia menggarisbawahi pentingnya digitalisasi sektor publik yang tepat guna. Menurutnya, adopsi teknologi oleh pemerintah daerah seharusnya memangkas rantai birokrasi yang berbelit, bukan justru menciptakan labirin baru bagi masyarakat dan calon investor.
“Teknologi harus mempermudah masyarakat, bukan membuat semuanya terasa rumit,” imbuh Victor.
Menutup arahannya, Victor menyatakan optimismenya terhadap masa depan ekonomi Sulawesi Utara. Perpaduan antara modal alam yang melimpah dan etos kerja masyarakat lokal dinilai sebagai fondasi utama yang kuat.
“Ibu pertiwi memberkati kita dengan laut yang kaya dan tanah yang subur. Masyarakat kita adalah pekerja keras. Tantangan besarnya sekarang adalah bagaimana menjaga keseriusan kita untuk mengelolanya bersama-sama secara transparan,” pungkasnya.
Sebagai wilayah yang berada di posisi geopolitik strategis Pacific Rim, Sulut memang menjadi magnet investasi di sektor hilirisasi perikanan, pertanian, dan pariwisata premium.
Kendati demikian, tantangan domestik seperti kesiapan tenaga kerja lokal (link and match) dan penyederhanaan izin usaha di tingkat kabupaten/kota masih menjadi pekerjaan rumah.
Melalui konsolidasi RIRU 2026 ini, Pemprov Sulut di bawah kepemimpinan Yulius Selvanus Komaling dan Victor Mailangkay berkomitmen menciptakan iklim usaha yang inklusif, memastikan gerbong investasi bergerak beriringan dengan kesejahteraan kolektif dan kemandirian generasi muda daerah.













