KOTAMOBAGU, SulutPlus.news – Sabtu pagi, 4 Oktober 2025, ratusan warga Kotamobagu bergotong royong membersihkan kota dalam rangka peringatan Climate Day 2025 dan World Clean Up Day.
Aksi ini menjadi bukti nyata komitmen daerah terhadap pelestarian lingkungan dan pengendalian dampak perubahan iklim.
Climate Day 2025 di Kotamobagu bukan sekadar seremoni. Kegiatan ini dirancang sebagai gerakan kolektif untuk mengurangi emisi karbon dan memperkuat budaya hidup bersih.
Aksi bersih-bersih dilakukan di lima titik strategis: Pasar Gogagoman, Pasar Poyowa Kecil, Terminal Bonawang, Sungai Mongkonai, dan Taman Kota Gogagoman.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Kotamobagu, dr. Wenny Gaib, Sp.M, bersama Kapolres AKBP Irwanto, SIK, MH. Turut hadir pelajar, komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, dan aparat pemerintah.
“Climate Day bukan seremoni, ini panggilan aksi,” tegas Kapolres Irwanto dalam sambutannya.
Aksi dimulai pukul 07.00 WITA di Taman Kota Gogagoman, kemudian dilanjutkan ke titik-titik pembersihan lainnya. Kegiatan berlangsung aman dan tertib hingga siang hari.
Menurut data BMKG Sulut, intensitas hujan dan suhu ekstrem di wilayah Bolaang Mongondow Raya meningkat 12% sejak awal 2025.
Hal ini menunjukkan urgensi adaptasi iklim dan pengelolaan lingkungan yang lebih serius.
Climate Day menjadi momentum strategis untuk membangun kesadaran kolektif dan memperkuat ketahanan kota terhadap dampak iklim.
Setelah apel pembukaan, peserta dibagi ke dalam tim kerja bakti. Mereka dilengkapi dengan alat kebersihan dan masker, serta mendapat pengarahan dari Dinas Lingkungan Hidup.
Selain bersih-bersih, dilakukan penandatanganan petisi “Kotamobagu Bebas Sampah” sebagai bentuk komitmen jangka panjang.
Menurut Ketua BMR Forum Hijau, Arman Mokoginta, partisipasi aktif masyarakat menunjukkan bahwa edukasi lingkungan mulai membuahkan hasil.
“Kami berharap gerakan ini tidak berhenti di satu hari. Harus jadi budaya,” ujar Arman.
Sementara itu, Kepala DLH Kotamobagu, Refli Mokoginta, menyebut bahwa volume sampah yang berhasil dikumpulkan mencapai 1,2 ton dalam sehari.
“Ini bukti bahwa kerja bakti masih relevan sebagai solusi lokal,” katanya. (*)







