Oleh: Uwin Owen Mokodongan – Budayawan
Para ilmuwan memperkirakan bumi yang hari ini kita pijak baru terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun silam. Namun pembentukan bumi bukanlah adegan sulap: “sim salabim” lalu langsung ada manusia, kota, agama, birokrasi, baliho politik, status Facebook, dan kolom komentar soal dapin.
Tidak. Bumi melewati proses panjang, brutal, dan nyaris tak romantis. Lautan mendidih, atmosfer belum stabil, dan kehidupan bahkan belum punya alamat.
Menurut berbagai kajian biologi evolusioner—termasuk yang dijelaskan oleh Budi Setiadi Daryono dari Universitas Gadjah Mada—kehidupan baru mulai muncul sekitar 3,5 miliar tahun lalu.
Dari organisme sederhana, kehidupan berkembang melalui proses evolusi yang panjang, rumit, dan kadang lebih masuk akal daripada perilaku manusia modern yang masih ribut soal hal-hal yang bahkan tidak mengancam keberadaannya.
Ilmu pengetahuan kemudian melahirkan banyak teori mengenai asal-usul kehidupan. Salah satu yang dikenal adalah teori Abiogenesis modern yang dikembangkan Oparin, J.B.S. Haldane, Harold Urey, dan Stanley Miller.
Intinya sederhana: kehidupan tidak muncul karena tepuk tangan langit, melainkan melalui proses kimiawi yang berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Tetapi tentu saja, penjelasan ilmiah tidak pernah berdiri sendirian di dunia ini. Agama-agama samawi memiliki narasi berbeda.
Dalam keyakinan tersebut, bumi diciptakan oleh Tuhan, manusia pertama adalah laki-laki, dan mungkin karena kesepian maka diciptakanlah perempuan, mereka melakukan kesalahan, di deportasi, lalu berkembang biaklah di bumi. Sederhana, langsung, dan bagi para penganutnya: final.
Di luar itu, berbagai masyarakat adat dan tradisi kepercayaan lain juga memiliki kisah penciptaannya sendiri. Ada yang percaya manusia berasal dari gunung, laut, pohon, telur kosmis, tubuh dewa yang terbelah, bahkan dari bambu yang meledak.
Setiap peradaban menyusun penjelasannya sendiri tentang “dari mana kita datang.” Sebab manusia, sejak dahulu, selalu gelisah menghadapi satu pertanyaan purba: “siapa kita sebenarnya?”
Masalahnya mulai menarik ketika semua jawaban itu saling berhadapan. Ilmu pengetahuan berbicara dengan fosil, artefak, stratigrafi, karbon radioaktif, dan kerangka manusia purba.
Agama berbicara dengan wahyu, iman, dan kitab suci. Tradisi lisan berbicara dengan mitos, simbol, dan ingatan kolektif. Semuanya merasa memiliki jalan menuju kebenaran. Dan manusia modern—makhluk yang cepat gabut dan marah-marah ketika kuota internet habis—dipaksa memilih posisi di tengah lalu lintas keyakinan itu.
Pertanyaannya: mana yang mau diikuti? Kitab suci? Tradisi leluhur? Atau ilmu pengetahuan?
Silakan memilih. Tetapi apa pun pilihan itu, ada satu hal yang perlu disadari: setiap jawaban selalu membawa konsekuensi cara berpikir. Sebab dari cara berpikir itulah lahir cara memandang sejarah, identitas, bahkan cara memandang sesama manusia.
Lalu kita masuk pada pertanyaan yang lebih kecil, tetapi justru lebih rumit: “Siapa manusia pertama yang datang ke Sulawesi Utara?”
Sebagian orang langsung menjawab cepat, mantap, dan penuh keyakinan: “Anak-cucu Adam dan Hawa.” titik!
Baik. Tetapi pertanyaan berikutnya muncul: bagaimana mereka sampai ke Sulawesi Utara? Dari mana jalurnya? Kapan waktunya? Menggunakan apa? Apakah ada jejak migrasi? Bukti arkeologi? Bahasa? Genetika? Atau minimal catatan selain keyakinan pribadi dan semangat mengetik di media sosial?
Di titik inilah banyak orang mulai berkeringat secara intelektual. Sebab ketika kitab suci dibuka, informasi yang tersedia umumnya bersifat universal: manusia berkembang biak dan tersebar di bumi. Tetapi detail mengenai siapa yang pertama tiba di jazirah utara Celebes, kapan mereka datang, dari mana asalnya, dan bagaimana proses migrasinya, itu tidak dijelaskan secara spesifik.
Sementara ilmu pengetahuan mencoba menjawabnya melalui penelitian: migrasi Austronesia, temuan arkeologi, linguistik, genetika populasi, hingga jejak budaya material. Jawabannya tidak sederhana, tetapi setidaknya ada metode, data, dan proses pengujian yang bisa diperdebatkan secara terbuka. Bukan sekadar “pokoknya begitu karena saya yakin”
Maka di sinilah letak persoalannya: banyak orang ingin jawaban instan untuk pertanyaan yang membutuhkan disiplin berpikir panjang. Mereka ingin sejarah bekerja seperti mie instan; diseduh tiga menit lalu selesai. Padahal sejarah bukan warung kopi tempat semua orang bebas mengaku saksi mata peristiwa ribuan tahun lalu.
Karena itu, pertanyaan tentang manusia pertama di Sulawesi Utara bukan sekadar soal “siapa datang duluan.” Itu adalah pertanyaan tentang bagaimana manusia memahami dirinya sendiri. Tentang apakah kita mau berpikir, meneliti, membaca, dan menguji pengetahuan, atau cukup puas hidup dari warisan slogan dan emosi.
Inilah sebabnya pendidikan menjadi penting. Orang tua menyekolahkan anak-anaknya bukan semata agar bisa mencari kerja, tetapi agar mampu berpikir. Sebab berpikir adalah kemampuan yang mulai langka di tengah dunia yang terlalu cepat marah dan terlalu malas membaca.
Kebenaran tidak lahir dari volume suara dan berlagak petantang-petenteng tapi kuah kosong. Ia lahir dari proses panjang: diuji, dibantah, diperiksa, diperdebatkan, lalu diuji lagi. Begitu terus.
Ilmu pengetahuan bergerak justru karena keraguan, bukan karena fanatisme.
Jadi, siapa manusia pertama di Sulawesi Utara?
Santai. Jangan buru-buru jadi paling yakin dan final. Bahkan sejarah pun sering lebih rendah hati daripada manusia yang baru mendengar omongan penuh asap, lalu merasa menjadi nabi arkeologi.
Makanya, belajar membaca dan mendengar itu penting. Karena terlalu banyak orang gemar memotong cerita, padahal belum selesai memahami kalimat pertama.












