BOLMONG – Destinasi wisata Air Terjun (Arter) Desa Muntoi yang baru saja diresmikan dan diproyeksikan menjadi ikon baru Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara, justru tercoreng.
Sebuah insiden penganiayaan yang melibatkan sejumlah remaja pembawa petaka terjadi di lokasi tersebut pada Selasa (18/5/2026).
Aksi kekerasan ini mendadak viral di media sosial Facebook dan memicu gelombang kecaman dari warganet.
Menanggapi keresahan publik, Tim Resmob Polres Kotamobagu bergerak cepat ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan berhasil meringkus delapan remaja yang diduga kuat sebagai pelaku.
Tak butuh waktu lama setelah menerima laporan dari masyarakat, aparat kepolisian langsung melakukan pelacakan dan pengepungan di lokasi penemuan para pelaku.
Kasat Reskrim Polres Kotamobagu, Iptu Ahmad Waafi, mengonfirmasi bahwa seluruh terduga pelaku saat ini sudah berhasil diamankan tanpa perlawanan berarti.
“Delapan orang terduga pelaku sudah kita amankan, dan sekarang sudah berada di kantor untuk proses hukum selanjutnya,” ujar Iptu Ahmad Waafi saat memberikan keterangan resmi kepada media.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami motif di balik aksi penganiayaan tersebut melalui pemeriksaan intensif.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarluaskan video kekerasan tersebut guna menjaga kondusivitas.
Insiden ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Pasalnya, Arter Muntoi baru hitungan hari dibuka dan diresmikan secara langsung oleh Bupati Bolmong, Yusra Alhabsyi.
Dalam kunjungan kerjanya baru-baru ini, Bupati Yusra sempat menaruh harapan besar bahwa objek wisata alam ini akan dikembangkan secara masif dan dipromosikan hingga tingkat nasional.
Sektor ini dinilai memegang potensi besar untuk mendongkrak roda perekonomian dan Pendapatan Asli Desa (PADes) Muntoi.
Namun, belum sempat mencicipi manisnya perputaran ekonomi dari wisatawan, citra Arter Muntoi kini dihantui isu keamanan.
Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat rekreasi keluarga yang aman dan nyaman, justru berubah menjadi arena premanisme jalanan.
Kehadiran objek wisata baru yang viral sering kali tidak diimbangi dengan kesiapan manajemen pengamanan (crowd control) dan mitigasi konflik di lapangan.
Tanpa adanya pos keamanan terpadu atau pelibatan aktif kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat, lokasi-lokasi wisata alam yang terpencil rentan beralih fungsi menjadi tempat nongkrong tidak produktif, konsumsi minuman keras, hingga memicu gesekan antarkelompok remaja.
Pemerintah Kabupaten Bolmong bersama Pemerintah Desa Muntoi kini dihadapkan pada pekerjaan rumah (PR) besar: mengembalikan kepercayaan publik bahwa Arter Muntoi tetap menjadi destinasi yang aman, ramah, dan layak dikunjungi.






