Berita Bolmong

Lebih Berkilau dari Logam Mulia: Cerita Hajan Paputungan Sulap Kakao Jadi ‘Emas Hijau’ di Bolmong

×

Lebih Berkilau dari Logam Mulia: Cerita Hajan Paputungan Sulap Kakao Jadi ‘Emas Hijau’ di Bolmong

Sebarkan artikel ini
Hajan Paputungan menunjukkan buah kakao hasil varietas unggul di kebunnya di Desa Matali Baru, Bolmong. Foto: Ist
Hajan Paputungan menunjukkan buah kakao hasil varietas unggul di kebunnya di Desa Matali Baru, Bolmong. Foto: Ist

BOLMONG – Di wilayah yang dikenal dengan kekayaan kandungan emasnya, sebuah narasi kesejahteraan baru sedang tumbuh dari akar-akar pohon kakao.

Hajan Paputungan (50), seorang petani asal Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Bolaang Mongondow (Bolmong) membuktikan bahwa keberlanjutan ekonomi di lingkar tambang tidak melulu harus bergantung pada sektor ekstraktif.

Lewat ketekunan dan sentuhan teknologi pertanian modern, Hajan berhasil mengubah lahan yang nyaris terbengkalai menjadi sumber pendapatan utama yang lebih stabil dan menjanjikan bagi masa depan keluarganya.

Beberapa tahun silam, potret kehidupan Hajan jauh dari kata sejahtera. Kebun kakao warisan keluarganya mengalami penurunan produktivitas drastis akibat serangan hama penggerek buah kakao (PBK) yang masif.

“Dulu panen sangat kecil. Tenaga dan biaya yang keluar tidak sebanding dengan hasil. Saya sempat terjepit utang karena kebutuhan sekolah anak yang terus meningkat,” kenang Hajan saat berbincang di sela aktivitasnya merawat kebun di Matali Baru, Sabtu (9/5/2026).

Baca Juga:  Gubernur Olly Resmikan Rumah Sakit Pratama Bolmong, Limi:Untuk Pelayanan Kesehatan Dumoga Bersatu
Hajan Paputungan bersama tim CSR PT JRBM meninjau kebun kakao varietas unggul di Desa Matali Baru, Bolmong. Foto: Ist
Hajan Paputungan bersama tim CSR PT JRBM meninjau kebun kakao varietas unggul di Desa Matali Baru, Bolmong. Foto: Ist

Kondisi tersebut sempat menggoda Hajan untuk beralih profesi menjadi penambang emas tradisional, sebuah pilihan umum bagi masyarakat lokal yang mencari keuntungan instan. Namun, kekhawatiran akan aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan membuatnya tetap bertahan pada cangkul dan sabit.

Titik balik kebangkitan ekonomi Hajan terjadi pada 2019. Ia terpilih menjadi salah satu penerima manfaat program pengembangan masyarakat yang diinisiasi oleh PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM).

Berbeda dengan bantuan sosial pada umumnya, program ini menitikberatkan pada transfer keahlian (Expertise) dan pendampingan berkelanjutan.

Dalam program tersebut, Hajan mendapatkan dukungan komprehensif berupa:

Peremajaan Bibit: Penyaluran 300 bibit kakao varietas unggul yang memiliki daya tahan lebih kuat terhadap penyakit dan produktivitas tinggi.

Baca Juga:  Tim Gakkum Diserang Usai Tertibkan Tambang Ilegal di Bolmong, Satu Anggota Luka

Manajemen Hama Terpadu: Edukasi mengenai teknik pemangkasan, sanitasi lahan, serta penggunaan pupuk presisi yang ramah lingkungan.

Pendampingan Intensif: Kehadiran tenaga ahli lapangan seperti Didi Podomi dari tim CSR PT JRBM, yang memberikan solusi langsung atas kendala teknis di lapangan.

Hasilnya luar biasa. Produksi kakao di lahan Hajan melonjak signifikan. Stabilitas finansial yang diraihnya tidak hanya melunasi utang masa lalu, tetapi juga memberikan jaminan pendidikan bagi anak-anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Hajan Paputungan merawat pohon kakao varietas unggul di kebunnya, Desa Matali Baru. Foto: Ist
Hajan Paputungan merawat pohon kakao varietas unggul di kebunnya, Desa Matali Baru. Foto: Ist

Keberhasilan Hajan memicu fenomena positif di Desa Matali Baru. Para petani lain yang sebelumnya membiarkan lahan mereka menganggur, kini mulai kembali menggarap kebun kakao. Fenomena ini menciptakan diversifikasi ekonomi lokal yang krusial bagi kemandirian desa di masa depan.

Baca Juga:  Forum Lingkar Tambang: Pemkab Bolsel Tegaskan Keadilan Rekrutmen dan CSR

Didi Podomi, perwakilan PT JRBM, menegaskan bahwa fokus perusahaan adalah memastikan masyarakat mampu mandiri secara ekonomi. “Tujuannya bukan sekadar memberi bantuan, tapi menciptakan kemandirian. Kakao adalah ’emas hijau’ yang jika dikelola dengan ilmu yang benar, hasilnya bisa lebih konsisten dibanding menambang,” ujarnya.

Kisah Hajan Paputungan adalah bukti bahwa integrasi antara sumber daya alam, dukungan korporasi yang tepat sasaran, dan semangat kerja keras warga lokal dapat menciptakan harmoni ekonomi. Baginya, kakao bukan sekadar tanaman, melainkan simbol harapan yang terus berbuah sepanjang musim.

“Kalau kita rawat dengan hati dan ilmu, kebun ini tidak akan pernah mengecewakan. Ini adalah warisan nyata untuk anak cucu,” pungkas Hajan penuh optimisme.