MANADO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa fenomena iklim global El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini masih berada pada fase netral.
Namun, pemodelan iklim terbaru menunjukkan ENSO berpotensi berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.
BMKG memprediksi peluang terjadinya El Niño berada pada kisaran 50–80 persen dengan intensitas lemah hingga moderat.
Sementara kemungkinan berkembang menjadi kategori kuat relatif kecil, yakni kurang dari 20 persen.
Fenomena ini diperkirakan akan membuat musim kemarau 2026 lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normal.
Kepala BMKG menegaskan bahwa tingkat kepercayaan prediksi akan lebih tinggi pada bulan Mei 2026.
Hal ini karena adanya fenomena spring predictability barrier yang menurunkan akurasi prediksi iklim pada periode Maret–April.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan panjang,” ujarnya.
Fenomena El Niño biasanya berdampak pada penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Utara.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi sektor pertanian, perikanan, serta ketersediaan air bersih.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kebijakan untuk meningkatkan kewaspadaan melalui langkah antisipasi lintas sektor, seperti pengelolaan sumber daya air, distribusi bantuan, dan edukasi publik.
Informasi resmi mengenai prediksi musim kemarau 2026 dapat diakses melalui laman BMKG: Prediksi Musim Kemarau 2026.







