Sains & Tekno

Fenomena ‘Bulan Pamit’: Jarak Satelit Menjauh, Masa Depan Bumi Terancam Berubah

Sulutplus.News - 

×

Fenomena ‘Bulan Pamit’: Jarak Satelit Menjauh, Masa Depan Bumi Terancam Berubah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pergeseran orbit Bulan yang menjauhi Bumi sejauh 3,8 cm setiap tahunnya. (Sumber: NASA/JPL-Caltech)
Ilustrasi pergeseran orbit Bulan yang menjauhi Bumi sejauh 3,8 cm setiap tahunnya. (Sumber: NASA/JPL-Caltech)

SULUTPLUS.NEWS – Langit Bumi diprediksi tidak akan pernah sama lagi di masa depan. Satelit alami kita, Bulan, dilaporkan terus bergerak menjauh dari orbitnya saat ini.

Meski terjadi secara perlahan, fenomena astronomi ini membawa konsekuensi serius: mulai dari punahnya fenomena Gerhana Matahari Total hingga perubahan durasi waktu dalam satu hari di Bumi.

Ketepatan data mengenai pergeseran posisi Bulan ini bukanlah sekadar teori. Sejak misi Apollo pada tahun 1960-an, para ilmuwan telah menjalankan Lunar Laser Ranging Experiment.

Mereka menempatkan reflektor di permukaan Bulan yang berfungsi memantulkan sinar laser yang ditembakkan dari observatorium di Bumi.

Baca Juga:  Mulai Beroperasi 2026, Internet Rakyat Paket 5G Rp100 Ribu Baru Tersedia di Tiga Pulau Ini 

Melalui metode ini, para ahli fisika dapat menghitung jarak Bumi-Bulan hingga presisi milimeter.

Hasil pemantauan selama puluhan tahun mengonfirmasi bahwa Bulan “angkat kaki” dari orbitnya dengan kecepatan sekitar 3,8 centimeter per tahun.

Jarak ini setara dengan kecepatan pertumbuhan kuku manusia, namun dalam skala kosmik, ini adalah pergeseran yang signifikan.

Punahnya Gerhana Matahari Total

Dampak yang paling dirasakan bagi peradaban manusia adalah hilangnya salah satu pemandangan langit paling menakjubkan.

Saat ini, kita beruntung karena ukuran Bulan terlihat hampir persis sama dengan Matahari dari perspektif Bumi, yang memungkinkan terjadinya Gerhana Matahari Total.

Baca Juga:  Google Merilis AI Generasi Baru untuk Gmail dan Cloud Software

“Seiring berjalannya waktu, jumlah dan frekuensi Gerhana Matahari Total akan terus berkurang,” ungkap Richard Vondrak, ilmuwan dari NASA.

Secara teknis, Diameter Matahari memang 400 kali lebih besar dari Bulan, namun ia juga berada 400 kali lebih jauh.

Keseimbangan kosmik yang presisi inilah yang akan rusak saat Bulan menjauh.

Vondrak memprediksi bahwa dalam 600 juta tahun ke depan, penduduk Bumi akan menyaksikan Gerhana Matahari Total untuk terakhir kalinya sebelum Bulan menjadi terlalu kecil untuk menutupi piringan Matahari.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dalam 12 Zodiak: Analisis Historis dan Fakta Astronomi di Balik Rasi Bintang

Dampak Terhadap Rotasi dan Waktu

Bukan hanya soal visual, menjauhnya Bulan berkaitan erat dengan mekanika tidal (pasang surut).

Interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan menciptakan efek “pengereman” pada planet kita.

Saat Bulan bergerak menjauh, tarikan gravitasinya terhadap Bumi sedikit melemah, yang mengakibatkan rotasi Bumi melambat.

Secara bertahap, hal ini akan menambah durasi waktu dalam satu hari.

Meskipun perubahan ini hanya dalam hitungan milidetik per abad, dalam skala miliaran tahun, durasi satu hari di Bumi bisa menjadi jauh lebih lama dari 24 jam yang kita kenal sekarang.