Pelatihan menulis yang digelar PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) bukan sekadar agenda perusahaan, melainkan sebuah gerakan literasi yang menempatkan kata-kata sebagai alat perubahan. Melalui kegiatan ini, dunia pertambangan dipertemukan dengan dunia literasi, menghadirkan ruang belajar bersama yang penuh ide, inspirasi, dan tanggung jawab moral terhadap alam.
Di sebuah ruangan Kinalang, Hotel Sutan Raja Kotamobagu, Minggu (19/01/2026), suasana pagi itu terasa berbeda. Kursi-kursi tersusun rapi, layar tv LCD ukuran 64 inc menyala, dan puluhan wajah penuh antusiasme menanti dimulainya sebuah pelatihan yang tak biasa.
Bukan sekadar pelatihan menulis, tetapi sebuah gerakan literasi yang menyatukan dunia pertambangan dengan kepedulian lingkungan.
Presiden Direktur PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), Anang Rizkani Noor, berdiri di depan peserta dengan senyum hangat. Ia menegaskan bahwa menulis bukan hanya soal merangkai kata, melainkan juga tentang menyampaikan gagasan besar, tentang reklamasi pertambangan yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kemampuan menulis sangat penting agar praktik baik perusahaan dapat tersampaikan dengan bertanggung jawab kepada publik,” ujarnya, seolah mengingatkan bahwa kata-kata bisa menjadi jembatan antara tambang dan kehidupan.
Hari itu, JRBM menghadirkan sosok yang tak asing di dunia jurnalistik: Wicaksono, atau yang akrab disapa Ndoro Kakung. Mantan jurnalis Tempo ini membagikan pengalaman panjangnya dalam menulis, mengajak peserta untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga langsung berlatih.
Suasana kelas berubah menjadi ruang diskusi penuh ide, di mana karyawan perusahaan duduk berdampingan dengan wartawan lokal, menulis bersama tentang masa depan lingkungan pasca-tambang.
Sulawesi Utara, dengan aktivitas pertambangan emas yang intensif, memang menyimpan cerita panjang tentang tanah yang digali dan alam yang harus dipulihkan. Reklamasi pasca-tambang bukan sekadar kewajiban, melainkan tanggung jawab moral.
Melalui literasi, JRBM ingin menunjukkan bahwa reklamasi bisa dikisahkan, dipahami, dan diterima sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Yudi Supit, salah satu peserta, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Kami tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik menulis. Sertifikat yang diberikan menjadi motivasi tambahan,” katanya dengan mata berbinar.
Sementara itu, Theza Gobel, wartawan lokal, berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut. “Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat untuk memperkuat tugas jurnalis di tengah persaingan media yang semakin ketat,” ujarnya penuh harapan.
Pelatihan menulis ini bukan sekadar agenda perusahaan. Ia adalah simbol perubahan: bahwa tambang tidak hanya bicara soal emas, tetapi juga tentang kata-kata yang bisa menginspirasi, tentang literasi yang bisa membangun kepercayaan, dan tentang lingkungan yang harus dijaga bersama.
Di akhir kegiatan, para peserta pulang dengan lebih dari sekadar sertifikat. Mereka membawa pulang keyakinan bahwa tulisan bisa menjadi alat reklamasi yang paling kuat, merawat alam, membangun masyarakat, dan meneguhkan komitmen JRBM sebagai agen literasi dan edukasi lingkungan berkelanjutan.








