BOLTIM – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Rosita Manoppo Pobela, secara resmi membuka Festival Pangan yang dipusatkan di Desa Purworejo, Kecamatan Modayag, Selasa (12/05/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Java Culture Fest (JCF) Vol. V Tahun 2026 ini mengusung misi strategis: mentransformasi pola konsumsi masyarakat menuju kemandirian pangan berbasis potensi daerah.
Dalam arahannya, Rosita Manoppo menekankan pentingnya kreativitas masyarakat dalam mengolah sumber karbohidrat alternatif di luar beras.
Menurutnya, Boltim memiliki kekayaan agraris yang melimpah yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk konsumsi harian yang sehat.
“Kita punya kekayaan alam yang luar biasa. Saatnya beralih ke pola konsumsi B2SA, Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman, dengan memanfaatkan pangan lokal non-beras,” ujar Rosita di hadapan para peserta dan pengunjung festival.
Penerapan konsep B2SA ini diharapkan dapat menekan ketergantungan masyarakat pada satu jenis bahan pangan pokok, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi keluarga di tingkat desa.
Lebih dari sekadar ajang demonstrasi masak, festival ini berfungsi sebagai inkubator bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya kelompok perempuan tani dan kader PKK.
Rosita menyoroti bahwa inovasi dalam menyulap bahan baku lokal menjadi sajian kuliner kekinian memiliki nilai ekonomi tinggi.
Hal ini dipandang sebagai solusi konkret untuk mendongkrak kesejahteraan keluarga melalui sektor ekonomi kreatif.
“Ini bukan hanya tentang memasak, tapi tentang bagaimana kita mandiri secara pangan dan berdaya secara ekonomi,” tegasnya.
Pelaksanaan festival di tengah momentum Java Culture Fest memberikan nilai tambah tersendiri.
Integrasi antara pelestarian budaya Jawa di Boltim dengan kampanye pangan lokal menciptakan ekosistem pariwisata berbasis kuliner yang kuat.
Langkah TP-PKK Boltim ini juga selaras dengan program nasional dalam memitigasi krisis pangan global dengan memperkuat ketersediaan pangan di level rumah tangga.
Dengan kembalinya masyarakat ke “akar” hasil bumi sendiri, Boltim optimistis mampu menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan.







