Suara lantang yang membelah keheningan Lapangan Boki Hontinimbang, Rabu (1/7/2026) pagi itu bukanlah suara biasa.
Suara itu adalah komando yang menyatukan barisan, menciptakan presisi, dan menjaga khidmatnya suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 di Polres Kotamobagu.
Di pusat lapangan, dengan langkah yang tegap dan pandangan yang tak gentar, berdiri sosok perwira muda yang mencuri perhatian banyak pasang mata. Ia adalah IPDA Fadhil Malik, S.Tr.K., sang Komandan Upacara.
Pemuda kelahiran Pekanbaru pada 12 Januari 2003 ini tumbuh dengan impian besar untuk mengabdi pada negara.
Garis takdir membawanya keluar dari tanah kelahirannya di Riau untuk memasuki gerbang sakral Akademi Kepolisian (Akpol).
Di sana, ia ditempa bersama Batalyon Adhi Wiratama, sebuah angkatan yang dikenal dengan semangat juang dan integritas tinggi, hingga akhirnya resmi lulus pada angkatan 2025.
Bagi seorang pemuda berusia 23 tahun, melangkah jauh dari kampung halaman adalah sebuah tantangan besar. Namun, bagi IPDA Fadhil, setiap jengkal tanah di Indonesia adalah medan pengabdian.
Bumi Totabuan, Kotamobagu, menjadi saksi sejarah sebagai tempat penugasan pertama dalam karier kepolisian IPDA Fadhil.
Kota yang ramah namun dinamis ini menyambut sang perwira muda untuk langsung mengemban tanggung jawab yang tidak main-main sebagai Kanit Pidum (Pidana Umum) Polres Kotamobagu.
Kesehariannya kini jauh dari sorot lampu upacara. Ia lebih akrab dengan tumpukan berkas perkara, ruang interogasi, dan ketegangan di lapangan saat memimpin timnya mengungkap tindak kriminal di wilayah hukum Kotamobagu.
Tugas yang menuntut ketenangan di bawah tekanan tinggi itulah yang kemudian ia bawa ke tengah lapangan upacara.
Menjadi komandan upacara di momen sebesar HUT Bhayangkara ke-80, sebuah usia yang menandai matangnya institusi Polri, bukanlah tugas yang bisa disepelekan.

Persiapannya menuntut disiplin ekstra, mulai dari pengaturan napas, kekuatan vokal agar terdengar jelas ke seluruh penjuru lapangan, hingga ketepatan setiap gerakan yang harus selaras dengan detak jantung barisan di belakangnya.
Namun, di balik seragam Polri yang rapi dan tatapan matanya yang tajam saat memimpin pasukan, IPDA Fadhil tetaplah seorang perwira muda yang membumi.
Di ruang kerja Satreskrim, ia dikenal sebagai sosok yang fokus dan selalu belajar dari lapangan. Baginya, setiap kasus kriminalitas yang ia tangani adalah cara untuk melayani masyarakat secara langsung, sementara menjadi Komandan Upacara adalah bentuk kehormatan dan penghormatan tertingginya kepada institusi.
Ketika terompet tanda upacara berakhir ditiupkan dan barisan resmi dibubarkan, ketegangan di wajahnya mencair menjadi senyum lega.
Tugas besar telah dituntaskan dengan sempurna. Keberhasilan jalannya upacara di Lapangan Boki Hontinimbang hari ini menjadi bukti nyata bahwa estafet kepemimpinan dan regenerasi di tubuh Polri berjalan dengan sangat baik.
IPDA Fadhil Malik bukan sekadar nama dalam struktur organisasi Polres Kotamobagu. Ia adalah representasi dari wajah masa depan Polri: muda, berkarakter, tegas dalam menegakkan hukum, namun tetap humanis.
Kini, setelah riuh tepuk tangan di lapangan mereda dan seragam upacaranya disimpan, IPDA Fadhil kembali ke meja kerjanya di Unit Pidum.
Kembali bergelut dengan realita kamtibmas, kembali menjaga keamanan warga Kotamobagu, dan kembali mengabdi, seperti janji setia Batalyon Adhi Wiratama yang selalu tertanam di dadanya.












