Berita Olahraga

Argentina Cetak Rekor Paling Memalukan di Final Piala Dunia 2026: 120 Menit Tanpa Tembakan Tepat Sasaran

Sulutplus.News - 

×

Argentina Cetak Rekor Paling Memalukan di Final Piala Dunia 2026: 120 Menit Tanpa Tembakan Tepat Sasaran

Sebarkan artikel ini
Pemain Andalan Argentina, Lionel Messi saat melakukan selebrasi. Sumber: FIFA
Pemain Andalan Argentina, Lionel Messi saat melakukan selebrasi. Sumber: FIFA

SULUTPLUS – Argentina mencetak rekor buruk setelah menelan kekalahan 0-1 dari Spanyol pada babak final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat.

Sang juara bertahan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran sepanjang 120 menit pertandingan berjalan pada Senin, 20 Juli 2026 dini hari.

Penampilan skuad Albiceleste di partai puncak ini berada jauh di bawah ekspektasi para pendukungnya.

Spanyol tampil sangat dominan dengan menguasai 65 persen aliran bola sepanjang laga berlangsung.

Sebaliknya, Argentina hanya mampu mencatatkan 35 persen penguasaan bola dan dipaksa bermain bertahan.

Lini depan Argentina dimotori Lionel Messi terisolasi akibat kedisiplinan yang ditunjukkan oleh barisan pertahanan Spanyol.

Sepanjang laga, Spanyol berhasil melepaskan total 20 tembakan dengan 12 di antaranya mengarah tepat ke gawang.

Sementara itu, Argentina hanya mampu membalas dengan dua tembakan spekulasi yang sama sekali tidak tepat sasaran.

Baca Juga:  73 Atlet Boltim Siap Berlaga di Porprov Sulut XII 2025

Kondisi ini menunjukkan betapa tumpulnya kreativitas serangan dari tim yang menyandang status juara bertahan tersebut.

Para gelandang kreatif mereka tidak mampu mengalirkan bola dengan baik ke lini depan.

Akibatnya, penjaga gawang Spanyol, Unai Simon sama sekali tidak perlu melakukan penyelamatan sepanjang laga berlangsung.

Gempuran bertubi-tubi dari tim Matador memaksa penjaga gawang Argentina bekerja ekstra keras di bawah mistar.

Kiper Albiceleste, Emiliano Martinez menjadi pahlawan yang menunda kekalahan timnya lebih awal lewat aksi 11 kali penyelamatan krusial.

Namun, tekanan terus menerus Lamine Yamal dan kawan-kawan akhirnya memicu rasa frustrasi yang merusak kedisiplinan para pemain Argentina.

Pertandingan penentu ini berakhir menjadi mimpi buruk kedisiplinan bagi skuad asuhan Lionel Scaloni.

Baca Juga:  One Pride MMA: Masih Perkasa! Windri Patilima Hanya Butuh Dua Menit Tumbangkan Rizky Pakaya

Argentina dihujani total tujuh kartu kuning oleh kepemimpinan wasit akibat pelanggaran keras yang tidak perlu.

Penderitaan mereka semakin lengkap setelah Enzo Fernandez diusir keluar lapangan pada menit ke-90+3 akibat kartu merah.

Kehilangan Enzo, membuat organisasi permainan Argentina menjadi berantakan.

Spanyol terus memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk mengurung pertahanan sang juara bertahan.

Gol yang dinanti akhirnya tercipta melalui skema serangan rapi pada babak perpanjangan waktu.

Umpan kepala Nico Williams mampu dikonfrensi menjadi gol oleh Ferran Torres di babak ektra time menit ke-106.

Antiklimaks Jalur Mudah Menuju Final

Performa buruk di laga pamungkas ini menjadi antiklimaks dari perjalanan mulus Argentina selama turnamen.

Sebelum babak semifinal, anak-anak asuh Albiceleste sama sekali tidak pernah diuji oleh tim penghuni peringkat 10 besar FIFA.

Mereka hanya menghadapi negara-negara di luar elite sepak bola dunia sejak awal kompetisi.

Baca Juga:  Lolos ke Final Champions 2024-2025, Inter Milan Berpeluang Samai Gelar Ajax Amsterdam

Pada fase grup, Argentina berturut-turut meladeni Aljazair yang berada di peringkat 29 FIFA, Austria di peringkat 23, dan Yordania di peringkat 73.

Tren menghadapi lawan di luar sepuluh besar ini terus berlanjut pada babak sistem gugur.

Mereka menumbangkan Tanjung Verde di babak 32 besar, Mesir di babak 16 besar, dan Swiss di perempat final.

Kurangnya ujian dari tim papan atas dunia membuat kolektif Argentina gagap menghadapi permainan intensitas tinggi Spanyol.

Skor akhir 1-0 memastikan La Roja resmi keluar sebagai juara di edisi ke-23 Piala Dunia.

Meski pulang sebagai runner-up, final Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai momen kelam saat Albiceleste kehilangan taringnya.