Berita Bolmong

Dua Ribu Rupiah di Ujung Pisau Kamardin Pontoh

Sulutplus.News - 

×

Dua Ribu Rupiah di Ujung Pisau Kamardin Pontoh

Sebarkan artikel ini
Kamardin Pontoh, spesialis sambung pucuk asal Desa Bakan, mendemonstrasikan teknik menyambung entres kakao varietas Sulawesi 2 (S2) pada bibit kakao lokal di Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Jumat, 18 September 2026. Kegiatan yang disaksikan peserta pelatihan PT JRBM, pemateri Tempo Institute, serta warga setempat ini bertujuan untuk mengenalkan teknik perbanyakan tanaman unggul guna meningkatkan produktivitas dan kualitas panen kakao petani lokal. Foto: Pasra Hidayat Mamonto
Kamardin Pontoh, spesialis sambung pucuk asal Desa Bakan, mendemonstrasikan teknik menyambung entres kakao varietas Sulawesi 2 (S2) pada bibit kakao lokal di Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Jumat, 18 September 2026. Kegiatan yang disaksikan peserta pelatihan PT JRBM, pemateri Tempo Institute, serta warga setempat ini bertujuan untuk mengenalkan teknik perbanyakan tanaman unggul guna meningkatkan produktivitas dan kualitas panen kakao petani lokal. Foto: Pasra Hidayat Mamonto

Pagi baru saja merekah pada Jumat, 18 September 2026. Udara dingin masih menggantung di perkebunan kakao Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).

Tanah masih basah sisa embun semalam ketika Kamardin Pontoh mulai memperagakan teknik sambung pucuk.

SCROLL UNTUK BACA ARTIKEL
ADVERTISEMENT
J Resources - Dirgahayu Republik Indonesia
SCROLL UNTUK BACA ARTIKEL

Di sekelilingnya, peserta pelatihan PT JRBM, pemateri dari Tempo Institute, dan warga memperhatikan gerakan tangannya.

Sepasang kruk kayu berada di dekatnya. Di tangannya, sebuah pisau mulai mengiris batang bibit kakao dalam polybag.

“Kuncinya ada di irisan pisau dan kerapatan ikatan. Kalau irisan kulitnya tidak rata atau ada udara yang masuk ke dalam ikatan plastik, pucuknya pasti membusuk dan mati,” kata Kamardin.

Ia menyisipkan entres pucuk varietas Sulawesi 2 (S2) ke batang bibit, kemudian membebat sambungan itu dengan pita plastik transparan. Gerakannya tidak banyak, tetapi setiap langkah dilakukan dengan teliti.

Setelah demonstrasi selesai, ia mengambil kruk dan menuju kebun warga.

Di antara batang-batang kakao yang tumbuh rapat, Kamardin berhenti di depan sebuah pohon. Kedua ketiaknya bertumpu pada kruk.

Gunting pangkas berada di tangan kanan, sementara pisau okulasi terselip di pinggang. Ia meraih batang kakao lokal, mengambil pisau, lalu membuat sayatan tipis.

Entres S2 disisipkan ke bagian yang telah dibuka, kemudian diikat rapat. Setelah memastikan sambungan berada pada posisi yang tepat, ia berpindah ke batang berikutnya.

Satu pucuk selesai disambung. Upahnya Rp2.000. Angka itu terdengar kecil. Tetapi Kamardin tidak menghitungnya dari satu batang.

Baca Juga:  Patroli URC Polres Bolmong Sasar Balap Liar dan Gangguan Kamtibmas

Ia mengumpulkannya dari ratusan batang yang dikerjakannya sepanjang hari. Jika fisiknya sedang fit dan cuaca mendukung, sekitar 1.000 sambungan dapat ia selesaikan dalam sehari.

“Kalau fisik lagi fit dan cuaca mendukung, sehari saya bisa dapat seribu sambungan. Tapi ini bukan cuma mengejar target angka, tanggung jawabnya besar karena petani menaruh harapan pada tiap pucuk yang saya ikatkan,” tutur Kamardin.

Kamardin bukan warga asli Matali Baru, melainkan berasal dari desa tetangga, Desa Bakan. Namun keterampilannya menyambung pucuk membuatnya dikenal luas di kalangan petani kakao.

Ketika pohon kakao lokal yang sudah tua hendak diperbaiki tanpa membongkar tanaman hingga ke akarnya, tangan Kamardin yang dicari untuk memasang entres S2.

Pagi itu, para peserta pelatihan tidak hanya melihat teknik tersebut dari jarak dekat. Mereka mengikuti Kamardin ketika berpindah dari satu pohon ke pohon lain.

Di tanah kebun yang bergelombang, langkahnya memang tidak secepat pekerja lain. Kruk menjadi penyangga tubuhnya. Namun pekerjaan tangannya berbeda.

Begitu pisau berada di jemari, ia bekerja dengan gerakan terukur: membuat sayatan, menyisipkan entres, lalu mengikatnya dengan pita plastik.

Pekerjaan itu menjadi salah satu sumber penghasilan Kamardin. Uang yang diperolehnya dari kebun warga tidak berhenti sebagai upah untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi ia bawa kembali ke kebun miliknya.

“Uang dari upah sambung pucuk itu saya pakai lagi buat urus kebun sendiri,” kata Kamardin.

Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan pembersih rumput, membayar warga yang membantu menebas semak, hingga menyewa pekerja lokal ketika musim panen tiba.

Baca Juga:  Kejari Kotamobagu Serahkan 4 Legal Opinion ke Pemkab Bolmong

Ada pekerjaan yang masih mampu ia lakukan sendiri, tetapi ada pula yang harus diserahkan kepada orang lain. Memanjat pohon kakao yang tinggi dan memetik buah di dahan atas bukan pekerjaan yang bisa ia paksakan.

“Saya sadar keterbatasan fisik saya. Pohon yang tinggi tidak mungkin saya panjat sendiri. Makanya, rezeki dari kebun orang saya pakai lagi untuk bayar tenaga kawan-kawan yang bantu panen kebun saya. Jadi semua sama-sama jalan,” tambah Kamardin.

Di situlah uang dua ribu rupiah itu berputar. Dari tangan Kamardin, upah sambung pucuk kembali menjadi biaya untuk merawat kebunnya sendiri.

Kebun warga memberinya pekerjaan, sementara penghasilan itu membantu menjaga kebun miliknya tetap hidup.

Sambung pucuk memang membutuhkan ketelitian tinggi.

Batang kakao lokal yang berakar kuat dipertahankan, lalu disambungkan dengan entres varietas unggul S2. Sayatan yang tidak tepat atau ikatan yang kurang rapat dapat membuat pucuk baru gagal tumbuh.

Bagi Kamardin, keterampilan itu ditempanya lewat pengalaman bertahun-tahun di lapangan.

Roni Konandaha, petugas yang ditunjuk PT JRBM untuk mendampingi para petani, mengakui kualitas pekerjaan tersebut.

“Kalau Pak Kamardin yang sambung Sulawesi 2, hampir pasti berhasil,” kata Roni.

Kepercayaan itu tumbuh dari bukti nyata. Sambungan yang dikerjakan Kamardin terbukti tumbuh dan berbuah lebat saat panen.

Namun kemampuan itu tetap menuntut ketahanan fisik. Dalam sehari, seribu sambungan berarti ratusan kali membuat sayatan, menyisipkan entres, dan mengikat pita plastik—semuanya dilakukan sambil bertumpu pada kruk di lahan miring.

Baca Juga:  Bawaslu Bolmong Lantik 45 Anggota Panwaslu Kecamatan

“Pegal di pundak dan kaki sudah makanan sehari-hari. Tapi begitu lihat pucuk yang saya sambung beberapa minggu lalu mulai keluar tunas hijau dan berbuah lebat, rasa capek itu langsung hilang,” ungkap Kamardin.

Matahari semakin tinggi ketika waktu mendekati pukul 11.00. Udara yang sejak pagi terasa dingin mulai menghangat.

Bayangan pohon kakao memendek di atas tanah. Kamardin masih berada di antara batang-batang kakao itu.

Ia menggeser kruknya perlahan, berhenti di depan batang berikutnya, lalu kembali mengambil pisau okulasi. Sayatan dibuat, entres S2 disisipkan, pita plastik dililitkan.

“Selagi tangan saya masih sanggup memegang pisau okulasi, saya akan terus bekerja. Saya tidak mau menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain,” tegas Kamardin.

Di kebun Matali Baru, hitungan pekerjaan Kamardin tidak berhenti pada upah yang diterima.

Sebagian hasilnya kembali ke tanah yang ia miliki sendiri untuk membayar orang yang membantu merawat dan memanen buah yang tak mampu ia petik seorang diri.

Menjelang siang, ia masih memegang pisau yang sama. Dua ribu rupiah berpindah dari satu pucuk ke pucuk lainnya.

Di antara kebun warga yang memberinya pekerjaan dan kebun sendiri yang harus tetap dirawat, Kamardin terus bergerak menjaga kemandirian hidupnya: dengan sepasang kruk, sebilah pisau, dan keterampilan di ujung jemarinya.

15